Selasa, 08 Februari 2011

Adab-Adab Makan

Disusun ulang oleh: Ummu Aufa
Muroja’ah: Subhan Khadafi, Lc.
a. Memulai makan dengan mengucapkan Bismillah.
Berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Apabila salah seorang diantara kalian hendak makan, maka ucapkanlah: ‘Bismilah.’ Dan jika ia lupa untuk mengucapkan Bismillah di awal makan, maka hendaklah ia mengucapkan ‘Bismillahi Awwalahu wa Aakhirahu (dengan menyebut nama Allah di awal dan diakhirnya).’” (HR. Daud Dishohihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih Ibnu Majah: 3264)

b. Hendaknya mengakhiri makan dengan pujian kepada Allah.
Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Barangsiapa telah selesai makan hendaknya dia berdo’a: “Alhamdulillaahilladzi ath’amani hadza wa razaqqaniihi min ghairi haulin minni walaa quwwatin. Niscaya akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Daud, Hadits Hasan)
Inilah lafadznya,

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنِي هَذَا وََرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حوْلٍ مِنِّي وَ لاَ قُوَّةٍ
“Segala puji bagi Allah yang telah memberi makan ini kepadaku dan yang telah memberi rizki kepadaku tanpa daya dan kekuatanku.”
Atau bisa pula dengan doa berikut,

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَنْدًا كثِيراً طَيِّباً مُبَارَكاً فِيهِ غَيْرَ (مَكْفِيٍّ وَ لاَ) مُوَدَّعٍ وَ لاَ مُسْتَغْنَيً عَنْهُ رَبَّناَ

“Segala puji bagi Allah dengan puja-puji yang banyak dan penuh berkah, meski bukanlah puja-puji yang memadai dan mencukupi dan meski tidaklah dibutuhkan oleh Rabb kita.” (HR. Bukhari VI/214 dan Tirmidzi dengan lafalnya V/507)
c. Hendaknya makan dengan menggunakan tiga jari tangan kanan.
Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam makan dengan menggunakan tiga jari.” (HR. Muslim, HR. Daud)
d. Hendaknya menjilati jari jemarinya sebelum dicuci tangannya.
Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Apabila salah seorang diantara kalian telah selesai makan maka janganlah ia mengusap tangannya hingga ia menjilatinya atau minta dijilati (oleh Isterinya, anaknya).” (HR. Bukhari Muslim)
e. Apabila ada sesuatu dari makanan kita terjatuh, maka hendaknya dibersihkan bagian yang kotornya kemudian memakannya.
Berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Apabila ada sesuap makanan dari salah seorang diantara kalian terjatuh, maka hendaklah dia membersihkan bagiannya yang kotor, kemudian memakannya dan jangan meninggalkannya untuk syaitan.” (HR. Muslim, Abu Daud)
f. Hendaknya tidak meniup pada makanan yang masih panas dan tidak memakannya hingga menjadi lebih dingin, hal ini berlaku pula pada minuman. Apabila hendak bernafas maka lakukanlah di luar gelas, dan ketika minum hendaknya menjadikan tiga kali tegukan.
Sebagaimana hadits dari Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhu:
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang untuk menghirup udara di dalam gelas (ketika minum) dan meniup di dalamnya.” (HR. At Tirmidzi)
g. Hendaknya menghindarkan diri dari kenyang yang melampaui batas.
Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Tidak ada bejana yang diisi oleh manusia yang lebih buruk dari perutnya, cukuplah baginya memakan beberapa suapan sekedar dapat menegakkan tulang punggungnya (memberikan tenaga), maka jika tidak mau, maka ia dapat memenuhi perutnya dengan sepertiga makanan, sepertiga minuman dan sepertiga lagi untuk bernafasnya.” (HR. Ahad, Ibnu Majah)
h. Makan memulai dengan yang letaknya terdekat kecuali bila macamnya berbeda maka boleh mengambil yang jauh.
Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Wahai anak muda, sebutkanlah Nama Allah (Bismillah), makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah dari apa-apa yang dekat denganmu.” (HR. Bukhari Muslim)
i. Hendaknya memulai makan dan minuman dalam suatu jamuan makan dengan mendahulukan (mempersilakan mengambil makanan terlebih dahulu) orang-orang yang lebih tua umurnya atau yang lebih memiliki derajat keutamaan.
j. Ketika makan hendaknya tidak melihat teman yang lain agar tidak terkesan mengawasi.
k. Hendaknya tidak melakukan sesuatu yang dalam pandangan manusia dianggap menjijikkan.
l. Jika makan bersama orang miskin, maka hendaklah kita mendahulukan mereka.
Maroji’:
Disadur dari: Adab adab Harian Muslim, Ibnu Katsir

AKBP Drs. Waris Agono, Msi dan Usaha Dakwah

NAMA Kepala Satuan Brimobda Lampung AKBP Drs Waris Agono Msi mungkin agak terkesan unik…
Jarang orang bernama Waris, kebanyak adalah Aris. Demikian dengan Agono, kebanyakan Wagono. Namun, rupanya dalam nama ini terkandung arti tersendiri. “Kata orangtua saya artinya anak sederhana,” ungkap lelaki kelahiran Boyolali 28 April 1968 ini.
Selain nama yang unik, Kasat Brimob Lampung ini termasuk sedikit dari pejabat di kalangan Polri yang fasih berbicara masalah agama. Bahkan bila kita berbincang dengannya terasa ada nuansa agamis yang membuka cakrawala kita bahwa urusan manusia bukanlah masalah dunia, pangkat dan jabatan belaka.
Dan, nuansa agamis pula yang dikembangkannya dalam membina kesatuan, terutama anggota Brimob. “Tak kalah pentingnya adalah kita memberikan makanan ruhani kepada anggota, karena kalau makanan jasmani saja maka akan timbul ketidakstabilan,” ujar Waris.
Disadari akar dari tindakan penyimpangan negatif manusia adalah timbul karena per-soalan moral dan ethika. Makanya, pendidikan moral dan ethika menjadi sangat urgen sekarang ini.
Waris menjadi polisi sudah meru-pakan keinginan sejak masih duduk dibangku SD. Terpikat melihat penampilan pamannya yang gagah dengan uniform Akabri, tertanam dalam diri Waris ingin pula menjadi polisi. Makanya ketika orangtuanya menyuruh dirinya masuk SPG atau SMEA, dirinya bersikukuh masuk SMA. “Lulusan SPG dan SMEA kan nggak bisa masuk Akpol,” bathinnya.
Setamat SMA dia masuk Akpol dan langsung lulus. “Saya memang telah menyiapkan diri.Pagi-pagi disuruh lari sama bapak kos saya itu. Dibangunkan diajak lari-lari, saya pun ikut lari terus kemudian diajari kalau tes jasmani, seperti ini, pisikologi begini-begini diajari sama beliau. Terus kemudian saya mengikuti tes pada saat tes itu saya yakin sajalah.”
Dan Waris benar-benar lulus tanpa didampingi sama sekali. Dia mengaku orangtuanya orang kampung, waktu disodori surat pernyataan kesanggupan mengembalikan biaya apabila meninggalkan pendidikan, ayahnya tak mau tanda tangan. Karena takut dari mana harus mencarikan uangnya nanti. Akhirnya waris mengadu ke ibunya dan akhrinya ibunya yang tanda tangan setelah diubah di formulir.
Sejak lulus Akpol 1990 sampai sekarang Waris melulu tugas di kesatuan Brimob. Mula-mula Danton di Satbrimob Pus sampai menjadi Komandan Kompi di sana, walau sempat diselang-selingi pendidikan PTIK dan KIK UI. Setamat KIK UI, Waris menjadi Dan Yon Sat Brimobda Polda Jawa timur berkedudukan di Malang. Tahun 2005 mengikuti Sespim, setamat Sespim menjadi Kaden A Brimob Polri dan sejak 2007 menjadi Kasat Brimobda Lampung. Sebagaimana galhibnya Brimob, Waris pun kerap mengikuti penugasan operasi. Mula-mula Tahun 1994 Dalam Operasi Pulau Galang pemulangan pengungsi Vietnam di Riau, Tahun1998 Komandan Kontingen ABRI Masuk Desa antar Pulau di Aceh Barat, Tahun 1999 Operasi PPRM di Aceh, 1009 juga Operasi Sadar Renjong Aceh, 2003 Operasi Tegak Rencong, Tahun 2003 Operasi Darmil, 2006 Operasi Mutiara di Maluku, lalu Operasi Perdamaian Poso. Berikut wawancara dengan Waris. Petikannya:
Ada pengalaman yang menarik sewaktu mengikuti operasi?
Banyak. Setiap penugasan punya kesan sendiri-sendiri. Namun yang berkesan sekali sewaktu Operasi Mutiara tahun 2006 di Maluku. Di situ saya bertemu dengan ustad-ustad, kepada saya disampaikan bahwa setiap manusia mempunyai kewajiban untuk berdakwah. Karena itu dulu para nabi diutus berdakwah untuk mengagungkan asma Allah namun karena nabi sudah tidak ada lagi siapa yang akan meneruskan usaha dakwah,yah umat manusia akhir jaman ini.Dakwah dapat dilakukan dengan bermacam-macam.Ustad menawarkan untuk ikut dalam usaha dakwah tersebut.
Apabila usaha dakwah berjalan maka tugas polisi enak, karena tugas ini diemban oleh setiap orang. Bukan ulama saja. Jika setiap orang tidak akan lagi mengenal agama, azab terjadi dimana-mana, bila ada kerusakan maka ini bukan salah siapa-siapa karena manusia tidak punya iman lagi.
Karena ini ada hubungan dengan tugas kepolisian lalu saya bertanya bagaimana tehnik dakwahnya, dijelaskan sama seperti Rasul SAW. Rasul berdakwah tidak minta bayaran tapi mendatangi umat, seperti polisi. Polisi yang mendatangi masyarakat bukan masyarakat didatangi polisi.
Mulaiilah saya tertarik. Apalagi di dakwah ada batasan-batasan yang sama dengan batasan di kepolisian, misalnya tidak bicara politik, tidak bicara aib masyarkat, tidak boleh bicara khilafiyah, lalu mendekati ulama, ahli tasauf dsb.
Berapa lama proses sampai Anda mengikutinya ?
Dua bulan. Sebenarnya saat di Kelapa Dua (Mako Pus Brimob, red) saya melihat jamaah selesai salat membaca hadis tentang keutamaan salat, dakwah baca Al Quran. Menurut saya itu bagus, kemudian di Ternate mulailah saya berjaulah dengan ustad. Saya ikut berpakaian sunnah (gamis, red), orang tidak tahu bahwa saya adalah Kaden Satbrimob. Ternyata bermanfaat untuk tugas kepolisian. Dari sini saya tahu bagaimana citra polisi di lapangan. Informasi yang saya dapat ini saya sampaikan ke bapak Kapolda
Adakah perubahan prilaku dan kebijakan dalam diri Anda kemudian?
Ya. Kita kan belajar, bahwa dalam hadis disebutkan bahwa orang yang kuat adalah orang mampu mengendalikan amarahnya. Saya sempat terkejut dengan bunyi hadis ini. Sebab selama ini kalau lihat anggota yang bersalah langsung saya hantam saja. Nah dengan dakwah ini saya dapat memberikan peringatan dengan lemah lembut. Kalau dulu saya keras kini saya sering ajak anggota salat berjamaah. Yang tidak salat saya tanya masak kita dipanggil komandan cepat, apalagi Allah yang memanggil. Nah dengan cara ini ternyata anggota mendidiknya lebih mudah.
Dan keuntungan lain?
Ada perubahan yang besar dalam diri saya menyangkut keimanan. Saat operasi di Aceh kalau tidak ada keyakinan kepada Allah yang menolong mungkin saya sudah meninggal, karena kita disana sering disanggong, dan saya tidak pakai pakaian anti peluru.
Apakah dakwah ini sejalan dengan tugas ?
Justru ini saya sangat tertarik dengan dakwah ini. Saat saya di Malang mendirikan Polmas kami sendiri yang mendatangi warga dari rumah ke rumah untuk melatih anjing milik warga dengan anjing pelacak herder. Nah tehnik mendatangi warga dari rumah ke rumah adalah tehnik dakwah yang saya ikuti artinya sejalan.
Memimpin Brimobda Lampung ini, apa saja yang Anda lakukan?
Sebenarnya saat saya ditugaskan Mabes di sini, saya bertanya dengan diri saya apakah saya mampu untuk melaksanakannya. Saya salat dan percaya bahwa Allah menolong saya. Saya lalu melakukan audit kesehatan organisasi, terutama kondisi seputar manusianya bagaimana, kemampuannya, disiplinnya, kondisi fisik terutama rohaninya. Saya melihat dalam masalah pembinaan rohani telah berjalan namun hanya membaca yasin kemudian mendengarkan ceramah. Ini lalu kita tingkatkan setiap Jumat anggota kita sebarkan untuk salat berjamaah dengan masyarakat, sehingga tidak ada lagi kesan ekslusif.
Jika satuan itu eksklusif atau tidak mengenal masyarakat ia akan cenderung arogan, merasa paling hebat. Tapi dengan mengenal masyarakat polisi mempunyai akan menjalankan sifat pelindung dan pengayoman. Ternyata tanggapan masyarakat terhadap program ini positif. Dan sebelum di Lampung, program ini sudah dijalankan di Ternate dan juga di Kelapa Dua tanggapan masyarakat pun baik. Jadi yang kita jalankan di sini meneruskannya saja.
Ada umpan balik setelah mereka berbaur dengan masyarakat, misalnya laporan atau sebagainya?
Sebenarnya mereka diberi satu kewajiban untuk mengenal satu orang saat mereka berbaur dengan masyarakat. Dan untuk diingat kegiatan pendekatan diri ke masyarakat juga berlaku juga bagi non muslim, sebagai contoh umat Kristen setelah saat mereka ke Gereja pun harus kenal dengan satu orang itu. Nah, kalau satu tahun berapa banyak dia kenal orang. Sudah mengenal 365 teman. Itu satu detasmen. Jadi tiada hari tanpa kawan baru, itu untuk bidang rohani.
Untuk peningkatan fisik?
Untuk pembinaan fisik dengan bela diri. Saya buktikan di Malang dan Kelapa Dua. Sebab bila setiap anggota memiliki kemampuan bela diri rata-rata sama maka dia mampu untuk ditugaskan kemana saja. Kalau di sini kita memilih olah raga bela diri Tarung Derajat karena ternyata sebelumnya di sini sudah ada, namun belum maksimal pembinaannya. Hanya beberapa personal saja. Maka kita masalkan. Seluruh anggota Brimob ikut. Dan olah raga Tarung Derajat ternyata filosofinya sangat tinggi. Misalnya di sana ditanamkan menghormati orang, walau kita mempunyai kemampuan tapi kita harus bersikap ramah. Aku ramah bukan berarti takut, aku tunduk bukan berarti takhluk.
Bagaimana dengan hasil program selama ini, apa bisa dilihat dari penurunan angka pelanggaran disiplin misalnya?
Saya lihat tingkat kedisiplinan meningkatlah. Fisik juga demikian, dulu waktu saya pertama kali datang bertugas di daerah ini mereka diajak lari, lima belas menit mereka sudah teriak-teriak. Sekarang nggak lagi. Tapi pelanggaran tergantung kita melihatnya. Begini tahun 2006 lalu, banyak yang melanggar namun hukuman belum diberikan sehingga tahun ini kita berikan sanksi, jadi pelanggaran tahun ini terkesan banyak padahal pelanggaran tahun lalu. Kalau ini tidak kita berikan hukuman maka kasihan dengan anggota yang lain. Kita juga memberikan penindakan untuk memperbaiki anggota itu sendiri hukuman ini bukanlah balas dendam, tapi demi kebaikan anggota itu sendiri.
Pelaksanaan Polmas di Brimob bagaimana?
Polmasnya sama sebagaimana kami terapkan di Ternate dulu, Polmas untuk Brimob sudah ada pedoman pelaksanaan Polmas sudah diterbitkan Kakor Brimob dan itu memang berbeda dengan Polmas dengan satuan kepolisian wilayah. Brimob Polmasnya Brimob ikatan regu atau kelompok, Polmasnya wilayah kan sendirian. Makanya dengan digabungnya dengan kegiatan agama itu dia ada posko ditempat-tempat ibadah itu. Kalau poskonya di warga masyarakat kita nggak bisa ngontrol. Dengan kegiatan agama maka dia belajar silaturahmi dari ke rumah-rumah, mengenalkan diri nama. Misalnya nama saya Haris saya dari Masjid Mujahidin Brimob Rawa Laut, saya menawarkan bapak ke mesjid untuk salat berjamaah. Lalau setelah salat diajak ngobrol. Ngobrolnya agama memang awalnya cerita tentang dunia kamtibmas dan bicara agama
Anda sekarang masih menjalani kegiatan dakwah ini ?
Insyaallah masih.
Banyak nggak anggota yang tertarik?
Banyak. Tiap akhir minggu, sebanyak 14 sampai dengan 20 orang kita keluarkan jemaah untuk ikut kegiatan agama bersama santri, anggota masyarakat luar. Jadi tidak untuk anggota kita saja. Dengan demikian masyarakat kenal dengan warga. Kalau kita tanya setelah mereka iktikaf tiga hari itu anggota sudah bisa mengaji salat, pulang lebih santun dan jaringan lebih luas. Nah, bicara jaringan, empat bulan saya di sini jaringan saya sudah banyak, sebab jaringan ini diperoleh dari pendakwah-pendakwah itu, jadi informasi kita lebih banyak Dan untuk diketahui ikut dakwah ini bukan untuk ketenaran dunia. Saya ikut untuk memperbaiki diri saya dan bersilaturahmi dengan warga. Karena janji Allah bagi orang yang bersilaturahmi maka akan dipanjangkan umurnya, diampuni dosa-dosanya, diluaskan rezekinya. Bagaimana tidak panjang umurnya kalau saya saja bertemu dengan Anda bawaannya guyon-guyon, tertawa melulu, nah dengan demikian lupa dengan berbagai masalah-masalah,sebab kita berbicara iman dan amal saleh, tidak bicara kejelekan orang, bicara iman maka iman kita meningkat. Diluaskan rezekinya mana tahu kalau saya bersilaturahmi ke rumah bapak, bapak ada jeruk, apel. Kita tidak berharap demikian namun kita hanya berharap kepada Allah. Lalu diampuni dosa-dosanya, dan ini adalah janji Allah.
Lalu dari visi, misi ini Brimob mendukung?
Ya. Sebab menurut saya pembinaan rohani penting. Bukan hanya pembinaan fisik, administrasi, operasional, jasmani. Rohani paling penting karena kalau orang hanya mementingkan jasmani saja dan tidak memikirkan rohani maka orang tersebut akan bersipat hedonisme lalu materialistis. Tapi kalau kebutuhan rohani telah diberi makan maka tersebut akan pandai bersyukur, Alhamdulillah ada rezeki. Hidupnya akan lebih makmur dan bahagia. Karena bahagia bukan karena jabatan dan harta, kebahagian itu bila seseorang menjalankan agama dengan cara sempurna. Kalau Allah letakkan kebahagian hidup dalam harta maka hanya orang berharta saja yang bahagia. Kalau Allah meletakkan kebahagian dalam pangkat maka hanya orang memiliki pangkat saja yang bahagia yang tidak mempunyai pangkat maka tidak akan bahagia. Kalau rohani polisi tidak kuat maka dia akan mencari tambahan dengan cara melenceng, tapi bila rohaninya kuat maka dia akan cari tambahan dengan cara yang halal. Apalagi polisi ini banyak yang jadi ‘kontraktor’, rumah mengontrak lalu kredit motor. Brimob ditata rohaninya agar menjadi baik. Karena Brimob juga banyak yang ‘kontraktor’,rumah kontrak kredit motor. Hanya 20 persen yang memiliki rumah sementara 80 persen kontrak. Yang menjadi persoalannya, biasanya godaan, karena ada imej masak polisi miskin? Itulah dengan ilmu agama tadi anggota dapat menjelaskan kepada warga bahwa tidak setiap polisi miskin, ada yang kaya mungkin pintar berbisnis, polisi banyak temannya mungkin juga dia dapat warisan dari orang tuanya, atau disokong oleh keluarganya.Kalau ada imej bahwa polisi itu kaya dengan cara yang kurang baik maka itu harus dibuktikan dan kita suuzon lagi.
Dalam beberapa bulan ini, setelah Anda bertugas di sini apakah ada anggota yang berubah prilaku?
Insyaallah ada. Kemarin saya mengajak anggota ikut kegiatan pesantren kilat tiga hari, ada yang berubah prilakunya.Yang merubah sifat ini bukan kita tapi Allah, kita hanya berdoa ya Allah rubahlah sifat si A ini.
Ada yang menolak kegiatan?
Ada. Kita telah memperintahkan tapi dia nolak-nolak begitu. Alasannya istri sakit, padahal istrinya tidak sakit. Tapi begitu dia keluar rumah katanya kepada isterinya dia ikut program agama. Nggak tahunya dia bergaul diluar, timbul masalah, dia dugem.Uang habis nggak mau bayar akhirnya ribut. Diajak ibadah nggak mau tapi maksiat mau akhirnya ketangkap juga. Itulah hukuman yang ditunjukkan Allah, dia mendapat tarbiyah (pendidikan) sendiri.
Anda sendiri mempunyai motto dalam hidup?
Banyak. Saya menerapkan prinsip, tiada hari tanpa kawan baru. Lalu, jiwa ragaku demi kemanusiaan. Dan dalam berbuat saya punya motto, orang lain baru berfikir kami sudah berbuat. Dan, kami juga berprinsip, “Kami bukan yang terbaik, tapi kami akan lakukan yang terbaik.”(*)
Kargozari (Laporan) Karkun Mas Lilik :

Dikutip dari : http://liliekprasetyowidiyono.wordpress.com/2009/02/19/akbp-drs-waris-agono-msi-dan-usaha-dakwah/

IJTIMA SERPONG 09

Bangsa Yang Besar Adalah Bangsa yang Selalu Ingat Akan Sejarahnya & Agama yang Besar Adalah Agama yang Senantiasa Ingat Pada Perilaku & Perbuatan (Sunnah-Sunnah) Pembawanya . Insya Allah…
DSC_0004Kagum, takjub dan masih banyak lagi perasaan yang berkecamuk di hati setiap orang yang menghadiri ijtima serpong pada tanggal 18 – 20 juli 09. Ratusan ribu manusia berkumpul menjadi satu, datang dari seluruh pelosok daerah bahkan tidak sedikit yang datang dari mancanegara. Jelas sekali tampak kehebatan usaha dawah ini. Tanpa gembar-gembor media , tanpa harus memasang spanduk besar di setiap perempatan jalan, tanpa bayaran dan penggalangan dana serta tanpa pengkultusan terhadap individu. Mereka semua datang dengan iklas semata-mata karena Allah , rindu dan haus akan agama. Ratusan kilometer mereka tempuh baik dari darat udara dan laut tanpa rasa lelah, tak terhitung biaya yang mereka keluarkan agar dapat sampai di medan ijtima.
DSC_0003Tidur hanya beralaskan seadanya, ditempat terbuka bahkan terpaan hujan dimalam hari tak juga menyurutkan langkah mereka untuk tetap berada di medan ijtima selama tiga hari. Jutaan air mata dan doa tertumpah dalam ijtima, memikirkan keadaan umat yang telah jauh dari agama ,berharap agar setiap diri mau kembali kepada agama , mau kembali mengambil tanggung jawab atas kerja dakwah sebagaimana dahulu Rasulullah saw dan sahabatnya lakukan. Disini tidak membicarakan perihal dukung mendukung capres , disini pun tidak memikirkan trik-trik agar masuk dalam jajaran pemerintahan karena salah satu tujuan usaha dakwah adalah menghilangkan sikap saling menjauhkan, saling berprasangka buruk , kemunafikan, dan tidak adanya kasih sayang di kalangan umat.
DSC_0032Dalam usaha dawah dan tabligh ada hal-hal yang sangat di tekankan melebihi hal-hal lainnya. Yakni ilmu dan dzikir, agar usaha dakwah ini tidak kembali menjadi jasad tanpa ruh atau sekedar tulisan tanpa penjelasan, atau sekedar kumpulan kaidah dan cara-cara kosong sebagaimana gerakan-gerakan lain yang tumbuh kemudian menghilang. Kerja dakwah dan tabligh sangat berkaitan erat dengan hati, sebagaimana ia juga berkaitan dengan anggota badan.
DSC_0027Sesungguhnya mengorbankan perasaan, diri dan jiwa di jalan Allah adalah pengorbanan yang tidak mahal, tetapi sangat penting dalam gerakan ini. Bahkan itu adalah tujuan yang hendak di capai. Rahmat Allah swt akan turun sesuai dengan kepedihan hati menanggung kesabaran , kesulitan, dan musibah serta menahan perasaan, dan cucuran air mata dalam mengembalikan kesadaran umat Islam tentang tanggung jawab mereka terhadap penyebaran agama.
DSC_0039Setiap orang yang berusaha tidak akan berhasil, kecuali usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh. Keberhasilan itu tergantung pada kesungguhan dalam meraihnya dan Allah swt tidak akan memberikan kebahagian, kedekatan , dan kebaikan di akhirat selama kita belum menempatkan usaha agama di atas usaha dunia.
DSC_0015Setiap muslim sudah seharusnya mengorbankan diri dan harta mereka dalam usaha dakwah tanpa keraguan  karena sesungguhnya setiap diri akan merasakan surga dengan segala kenikmatannya sejak didunia ini jika kita menjadikan usaha dakwah ini sebagai maksud hidup dan yakin bahwa sesungguhnya Allah swt tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebajikan . Sesungguhnya dibalik kematian di jalan ini ada kehidupan yang hakiki.
DSC_0003Rasanya jutaan tulisan tak akan bisa menjelaskan tentang usaha ini tanpa kita sendiri ikut terjun langsung di dalamnya dan menjadikan dakwah sebagai maksud hidup kita.
DSC_0045Sesungguhnya semua hubungan itu mati selama tidak berada di bawah kaki Rasulullah saw,  yakni hubungan yang di jalanin bukan untuk panji-panji Islam, maka hubungan itu kosong dari ruh tidak mengandung kebaikan dan keberkahan.
DSC_0006Semoga Allah memberi kepahaman tentang masalah ini kepada kita semua sehingga Allah gunakan diri, harta, waktu dan fikir kita untuk agama-Nya, sehingga setiap apa-apa yang ada didalam diri kita menjadi asbab hidayah untuk seluruh alam.
DSC_0011Ya Allah !!! Jangan Engkau uji kami dengan ujian sebagaimana para sahabat nabi-Mu
Ya Allah !!! Hantarkan kami ke seluruh alam dengan asbab atau tanpa asbab pada kami.
Ya Allah!!! Pilihlah kami dalam kerja dakwah sehingga Engkau jadikan dakwah maksud hidup, hidup untuk dakwah, dakwah sampai mati dan mati dalam dakwah.

Ya Allah !!! Hancurkan lah orang yang menjadikan kerja dakwah ini untuk kepentingan dunianya.

Subhanallahi wabihamdika ashaduala ilaha ila anta astagfiruka waatubuhu ilaik’
Wabilahi taufiq wal hidayah wassalamualaikum warahmatullahi wabarakathan lil alamin…

NB : Selama ijtima berlangsung dilarang keras mengambil gambar baik gambar mubayin maupun suasana ijtima, berhubung iman saya lemah dan masih belum bisa tertib saya mengambil beberapa gambar, semoga Allah swt memaafkan saya dan memberi kekuatan kepada saya untuk selalu berada di atas tertib , amien.  ( untuk Mas Kunto dan Rio potonya ambil aja di FB gw ) bis gak bisa kirim email gak ngerti )
All Teks From Blog Mas Landy Akbar : http://harapandiri.wordpress.com/

Keeping Busy On the Path of Allah The Self-Organisation (Intizam) of the Tablighi Jama’at

In recent years the Islamic missionary movement of the Tablighi Jama’at has attracted increasing attention, not only in South Asia, but around the globe. This is partly to do with the huge number of followers assembling at its annual congregations in India, Bangladesh or Pakistan, often counting between one and two millions. This attention is also generated by the fact that traditional Islam did not know an organised proselytising movement until the Tablighi Jama’at was formed. The by now global network of its activities is another instance where Southasian Islam has contributed to the evolution of global Islamic activism.
While their congregations - ijtima - create much publicity and the groups of their travelling preachers are widely known and recognised among Muslims, little is known outside the movement about the way it operates on a daily basis, how it organises its activities on a mass scale. This self-organisation in daily parlance is called intizam (administration). But in writing it is rarely admitted to exist. The current paper is based on interviews with informants in Aligarh, Bhopal and Delhi in December 2001 - January 2002, unless mentioned otherwise. It seeks to highlight the practical dimensions of the Tabligh work which is rarely documented in academic publications. So far mostly the hagiographic and propagandist literature of the movement has served as the basis for analysis (Anwarul Haq 1972; Masud 2000). The movement has often successfully deflected investigative attempts by non-Muslim scholars. However, lately the number of case studies has increased. They concentrate on the movement’s transnational activities in countries such as Bangladesh, Britain, and Morocco (Yoginder Sikand 2002; Faust 2001); or on local branches such as in the Indian state of Orissa (Zainuddin 2001). The internal workings of the Tablighi Jama’at still await definitive treatment.
The philosophy of the movement has been discussed in the academic literature extensively. It is summarised in the famous six points, demanding to focus attention on (1) the confession of faith by reciting the kalima; (2) praying regularly and correctly (salat); (3) acquiring religious knowledge and remembering God (ilm, zikr); (4) respecting fellow-Muslims (ikram); (5) reforming one’s inner self through pure intentions (niyyat) and (6) going out in the way of God (nafr) (Faridi 1997: 114-116).
The movement’s self-declared objective is the so-called internal mission, to make Muslims better Muslims, as the Tablighis say. It strongly denies any political ambitions. Yet its efforts to ‘re-islamize’ large numbers of Muslims cannot but have political consequences if only by providing a fertile ground for the activities of Islamic political parties and radical or militant groupings. The movement is pre-dominantly male-oriented, although it does organise women’s activities on a limited scale in ways strictly conforming to prescriptions of dress and modesty by Islamic law. Women’s activity may partly be regarded as emancipatory, if compared with traditional gender roles in South Asia or in other Islamist movements (See Barbara Metcalf in: Jeffery, Basu et al. 1999; Masud 2000).

The travelling preachers

The Tablighi movement came into being in 1926 when Muhammad Ilyas (1885-1944) started preaching correct religious practices and observance of rituals to Muslim tribes in the region of Mewat around Delhi (Cf. Mayaram 1997). In this Ilyas joined other Muslim activists and groups who opposed the Arya Samaj preachers since the early 1920s. The area had become a battle ground for the souls of the local tribal population whose ancestors had converted from Hinduism to Islam. Since then the tribesmen had retained a number of earlier non-Islamic customs. The reformist Hindu movement of the Arya Samaj aimed at reclaiming these tribes for the Hindu faith into which they would be readmitted after ritual “purification” - Shuddhi - the name by which the campaign became known. Contacting local elders, Ilyas aimed at reorganising the religious and social life of the tribals creating new facilities for religious education and improving social communication through regular council meetings in villages. His main innovation, however, pertained to the introduction of travelling lay preachers who were being dispatched to other Muslim regions in India. Their objective was twofold: the participants should reform themselves on these tours and they should carry the faith to other fellow-Muslims who so far had remained passive or disinterested in the observance of religious practices. Those preaching tours became the hallmark of the Tablighi movement. Today Tablighi lay preachers practically cover the whole Islamic world and all western countries where Muslims live.
The groups are formed at the local Tablighi centre which is usually attached to a Deobandi mosque or madrasa. Starting with Ilyas’ personal association with the Dar al-Ulum of Deoband, the movement has been supported by religious scholars, ulama, propagating the purist teachings of this seminary located in the north Indian state of Uttar Pradesh (U.P.) (Metcalf 1982). The Tablighi movement also kept close contact with the Nadwa seminary from Lucknow, the capital of U.P. (Malik 1997). Lists of volunteers are being kept at the Tablighi centres where destinations and routes of preaching groups are decided and reports are submitted afterwards.
The groups are expected to take care of their own travel expenses. This condition puts a ceiling on the travelling ambitions of some members as groups may travel to other countries and even continents. Yet there has always been some speculation that part of the travelling expenses, as well as of the cost of running the organisation, is borne by unnamed benefactors who may be private citizens from the business community, but also from sympathetic countries such as the Gulf States.
The association of followers with the movement is mostly a temporary one, lasting for the duration of the particular preaching tour. Those counted among the regulars would spend three days or more per month on Tabligh activities. Regulars would make up between 10 and 25 % of Tablighi followers. Some give up their worldly pursuits entirely to spend their life in the service of the movement, either at its administrative and religious centre, the “Bungalow Mosque” in the Nizamuddin area of Delhi or at some local centre. They would lead a pious and ascetic life not dissimilar to the Hindu holy men, living on donations by family members or fellow Tablighis. This may occasionally create problems for the families of these lifetime Tablighis who lose their bread-winner. It is therefore officially discouraged but occasionally condoned.
The travelling groups would usually arrive at a local, mostly Deobandi mosque. There they would stay for two to three days and sleep inside the mosque - which is a practice not fully accepted by all ulama. They always are self-sufficient with their bedding and cooking utensils which they carry with them. After prayer they go out and tour the local Muslim community. They knock on doors of most houses to invite people to come for the next prayer to the mosque. While responses vary, between 2 and 10 % of those approached may turn up at the mosque out of which some might have come anyway to say their regular prayer there. After a joint prayer they are given an inspirational religious talk (bayan), reciting religious principles, instances from the Quran and the Prophetic traditions (hadith). Usually a session of religious education follows (ta’alim). This consists of reading from a book written by one of its founding fathers, Maulana Muhammad Zakariya (1898-1982), “The Virtues of Good Deeds” (Faza’il-A’mal), which the movement has adopted as standard educational reference material (Zakariya, 1994). It presents a compilation of religious texts, mainly Prophetic traditions. Then those present are called upon to volunteer for future preaching tours (tashkil). People stand up and give their name and local association which is being noted down in a special register or book kept at the mosque. Later the new volunteers will be taken up on these pledges and reminded to live up to them. When the group returns to its home base it will report to the local Tabligh centre either in oral or written form (karguzari).
Derived from the travelling practice as its main form of activity, the official arrangements for the work of the movement are kept deliberately provisional and temporary. It is part of the self-image of the movement that it is wholly based on voluntary work with little or no administrative input. The movement keeps no official publications, no formalised leadership structure, no written set of rules or objectives. Yet this self-representation carefully camouflages a different reality of a highly hierarchical leadership which exerts significant moral and social pressure for compliance, a reality that comprises a wide range of unofficial publications detailing the guidelines and the rules by which the work has to proceed, a reality that includes a differentiated and well-defined administrative structure. There is an unwritten constitution of the movement that determines in great detail what issues are confronted in what way and how the work, that is organising the preaching tours, is being conducted, how new members are being attracted and how issues of leadership and guidance are being solved.

The congregations

Next to the preaching tours, its congregations (ijtima) constitute the most well-known feature of the Tablighi movement. They are of various scope: local, regional, national or international/global. A sub-variety is constituted by student or youth ijtimas. On one side they take up the tradition of the weekly Friday prayer congregation at the local mosque, on the other they represent a kind of community ‘orientation’ meeting, which perhaps has grown out of the initial local community meetings in Mewat with religious scholars and tribal elders.
Basically their programme closely follows the itinerary of the preaching tours, consisting of joint prayers, inspirational talks, readings from the Zakariya volumes, calls for volunteers to register for future preaching tours, and in addition a concluding prayer of supplication (du’a).
Ijtimas are being held regularly on fixed days at the local Tabligh centre, usually once a week. They are held at or around prayer times to induce the faithful of the area who come to the mosque for prayers to participate in the Tabligh meeting as well. These ijtimas facilitate social communication and networking among followers.
From these, the grand national meetings stand out in a category of their own. The annual congregations of the Tablighis in Bangladesh, India and Pakistan are remarkable for the huge numbers they attract and the amount of publicity they generate, among the local population, but also on a wider scale in national newspapers and international media. Tablighis use to stress that these meetings represent the second-largest congregation of Muslims after the Hajj. Reports assume that up to two million people participate in the Bangladesh meeting in Tongi, between one and one and a half million in India and Pakistan each. The latter usually takes place at Raiwind, the location of the Pakistani centre of the movement near Lahore. In India, major annual congregations were held at different places, although now they seem to have settled on the longstanding Bhopal ijtima. For about 50 years it was held at its huge mosque Taj ul-Masajid (crown of the mosques) but has shifted recently to open fields outside the city for want of space. The congregations seem to be important venues for mobilising support not only among Muslims, but also among Non-Muslims and secular elites, notably politicians. The Presidents and Prime Ministers of Bangladesh and Pakistan have repeatedly used the meetings to rub shoulders with the praying millions on occasions that are bound to attract mass media attention.[1] The former head of the Afghan Taliban regime, Mulla Omar, was also reported to have attended the Pakistan congregation. In India cooperation with state authorities is smooth and traditional, although less publicity-oriented. Tablighi leaders seem divided over the merits of such huge meetings. Muhammad Yusuf (1917-1965), second Amir of the Indian Tablighi Jama’at, had already emphasised that the regular work in propagating Islam was more important than the meetings. There are attempts made in India nowadays to scale back the national congregations in favour of the regular work.
At the national congregation local Tablighi organisations are represented by formal delegations squatting on the prayer ground behind signboards indicating their place of origin. Also attendance from other countries is a regular feature now as the movement has become truly global. Contrary to assertions made by members of the preparatory committees, a huge organisational effort constitutes the backbone of these congregations. Special departments are created for logistical support (food, sound system, medical services, fire services, security, transport), usually in close cooperation with state authorities for which the organisers are often not charged. Local businesses also provide their services often for free, regarding it as a moral duty and an effective form of ‘product placement’. A huge department takes charge of coordinating the routes of all participants for preaching tours as the congregation winds up with sending off all participants on their respective tours having recharged their motivation and energy.
The increasing social function of the movement is displayed in staging mass marriages (nikkah) celebrated by prominent luminaries of the movement. Also the concluding act, the prayer of supplication (du’a) apparently holds an enormous social importance. It is this prayer which attracts huge additional crowds from among the local population seeking benediction (barakat). It is they who swell the participating numbers to the millions making clear that the actual number of participating Tablighis is significantly less than generally assumed.

The local mosque scheme

The Tablighi activists devote growing attention to a scheme that has slowly but steadily evolved over the past decades, the formation and operation of a local ‘mosque group’ (masjidwar jama’at) in contrast to the travelling preaching group, the Tablighi Jama’at. It considers the local mosque as the basic unit of operation. The details of this scheme have been fixed in a rigid grid of demands that are made on its participants on a daily basis. It rests on the understanding that every potential follower of the movement is always and first member of his local mosque group. This makes the scheme somewhat akin to ideological structures of mobilisation. In particular, one comes to think of the basic units of the Communist movement. In reality, it is only the regulars who are involved in it. It requires
  • to attend all five prayer sessions at your local mosque which are used to fulfil specific functions for the movement;
  • to form a council (shura) which meets daily, and to attend its sessions at one of the prayer times;
  • to spend 2 1/2 hours daily of dedicated Tabligh activities in meeting fellow-Muslims and inviting them on to the path of Allah in an individual capacity which is called ‘meetings’ (mulaqat);
  • to conduct two educational sessions (ta’alim) daily by reading from the Zakariya volumes for about 30 to 45 minutes, one at the mosque and one at home;
  • make two rounds of preaching walks (gasht) per week, around the immediate neighbourhood on one day — which is fixed for every local mosque
  • and around the adjacent mosque area on their fixed day.
As a faithful follower of the movement you will also want to attend the ijtima of your locality which comprises several mosque areas (as mentioned above). Once you engage in all these activities you are certainly counted among the regulars. You will then want to consider also the other obligations which are prescribed for regulars in ascending order one in addition to the other. These in particular suggest to spend a fixed amount of time on Tabligh tours, beside the daily 2 1/2 hours and the weekly two days in your own and the adjacent locality as mentioned above, that is
  • to three days per months on a full preaching tour to another locality in your home region;
  • 40 days per year, called by the Sufi term chilla, generally a longer period of withdrawal or seclusion for contemplation and prayer, which could be to other states or provinces of your country, but also to other countries;
  • the ‘grand chilla ’, consisting of 3 consecutive chillas, once during your lifetime, which equals four months (120 days);
  • for the ardent there are even longer chillas, mostly when going abroad, for a period like 7 months, or on foot across the country for a whole year (Cf. Hasan, 1982: 772).
Committing yourself to these activities puts a heavy burden on the shoulders of every regular. It is not uncommon that those doing so tend to neglect their worldly engagements. At the same time, the mobilising efforts can also have affirmative results. A survey made at Aligarh University in India was said to have shown that the academic achievements of Muslims students who were Tablighi regulars significantly surpassed those of their co-students.
Yet a regular can hardly pursuit his predilection for Tabligh work unless he makes it his lifetime occupation and doesn’t count the hours. This also entails social consequences with regard to Tablighi family life. Several informants suggested during interviews that those families where both partners were actively involved in Tabligh work tended to have fewer children. They would have more simple marriage ceremonies - because they shun ostentatious expenditure – and they have easier divorces - because they don’t ask for bride money, both under the influence of reformist teachings.[2] Young Tablighi activists even seek out the advice of their elders in questions of finding suitable partners tolerant of the demanding Tabligh work.

The leadership question

In its self-representation the movement stresses its egalitarian character. Outgoing preaching groups (jama’at) elect a leader (amir) from among themselves whose orders would be obeyed unquestioningly. Yet he could be any of them, and more important, he is expected to lead through his personal example in his devotion to preaching, praying, religious education, but also in his humble demeanour towards other members of the group, in his readiness to take over ordinary daily chores of cooking or cleaning. Beside this leader of the basic preaching group, the only other leader who is known in public is the national leader of the Tablighis in India or Pakistan (or any other country). The middle rung of leadership is hardly visible to outside observers and not even to irregular participants. Yet the movement is ruled by a clearly defined command structure at every level being both flexible and rigid in turns. It is based on the shura principle gleaned from the Qur’an and the hadith, lead by an amir or a responsible person of varying designation. It is assumed that the Prophet’s practice of consultation with his companions is the example. Council is held in open accessible by all member or interested people, at least in theory. In practice though there is a selection of those attending. And not all business of the movement is conducted in public, if only in the presence of their own followers. There definitely is a closed or secret part of business of the movement which is deliberately kept away from the public eye.
Taking India as an example, where the movement started and its global headquarters are located, the leadership structure comprises the following levels:
  • The lowest level is the travelling preaching group, the Tablighi Jama’at. Leadership here is a temporary assignment for the duration of the tour. As the size of the groups rarely exceeds ten, fifteen people, there is no shura formed here. At this level always an amir is selected, or sometimes appointed.
  • Next comes the mosque group where a shura is formed and in operation. But its composition varies. The regulars of the locality take turns in sharing responsibilities. Its leader would be the ‘decider’ – faisal. While his appointment may be confirmed by higher-standing authorities in the movement, the assignment rotates, even at short intervals like after two or three months.
  • The next higher up level would be the locality where a local shura is in operation. In a city like Aligarh there are two Tablighi centres, one in the university area at the Sir Sayyid Hall Mosque and the other at the old town mosque. The shura has four to five members. Its composition and more so the function of faisal is usually confirmed by the higher up Tablighi leaders, either at the state/provincial level or even at the national level. In the case of Aligarh’s university shura due to its eminent status in the Tablighi movement as a centre of learning and the seat of the most prominent Muslim university it was confirmed by the very leaders of the Tablighi movement in India, the Nizamuddin shura at Delhi. The shura members often keep their post until they die. Age in the Tablighi understanding only adds to authority. This shura would also meet every day, but hold council on the more important affairs of the movement in the locality on the day of the ijtima which for the university area was Sundays.
  • There are also shuras in operation at the level of the Indian states and Pakistani provinces. Some of their leaders were formally designated amir. They conduct the affairs of the movement in their state or province fairly independently. Nowadays the new heads of the shura are preferred to be called by the less formal and presumptuous title faisal.
  • Then there is the central Tablighi shura at Nizamuddin. This name is applied to the current collective leadership and also to a larger ruling council. Ilyas was succeeded as amir first by his son Muhammad Yusuf and than by his grand-nephew In’am al-Hasan (1918-1995). After the latter’s death, a collective leadership took over as the movement could not decide on a single successor. It consisted of the Maulanas Saad al-Hasan (grandson of Yusuf and great-grandson of Ilyas), Zubair al-Hasan (son of Inam) and Izhar al-Hasan (maternal nephew of Ilyas). Inam al-Hasan himself was reported to have contributed to the ‘democratisation’ of the movement as he moved to strengthen the role of the shura against the amir and the role of the daily work (within the mosque group) against ostentatious congregations. After Izhar died, this collective leadership or small shura now only consists of two persons. Among these it is Maulana Saad who has now clearly moved to the centre of the movement. He is seen as the new theoretical, spiritual, and symbolic head of the movement. He seems to be immensely popular with followers as can be judged from reactions to his appearance at the 2002 Bhopal congregation. Maulana Zubair apparently concentrates more on the internal structure and organisation of the movement.
Beside the small circle of collective leadership there is a larger shura in operation at Nizamuddin which consists of elders (buzurg or bare) from all over India and counts approximately 15 members. While it meets daily it holds open council on Thursdays on the occasion of their version of the weekly ijtima. Not all its members attend all its sessions. There is a rotation and sharing of responsibilities at work guaranteeing that issues concerning the reception of incoming or preparation of outgoing preaching groups are not left undecided.
On questioning the impression is given by the movement’s representatives that all issues are decided impromptu. While this may often be the case, a certain amount of paper work is apparently still generated and regular offices are also in operation at the centre. Paper work mainly relates to requests (taqaza) from outlying mosques or madrasas for preachers to be sent to them to strengthen the propagation (tabligh) of Islam for whatever momentary local reason. A number of activists runs regular administrative offices at the centre dealing with incoming and outgoing groups, coordination of their travelling destinations and overseeing the work in the regions and provinces. The role of Chhote Sayyid Bhai (’the younger Sayyid’) may serve as an example, a ‘nom de guerre’ by which a Maulana from Nizamuddin went who was in charge of coordinating travel routes for outgoing preaching groups. He also was a member of the preparation team for the Bhopal ijtima 2002, attended by the author. While he explicitly denied any role of regular administrative work in the running of the movement, he was reported to have his own permanent office at Nizamuddin where he kept a huge oversize chart of all possible destinations of preaching tours in the world, complete with the names and schedules of train and bus stations.
A third group of regular full-timers is indispensable for the running of the movement at the Nizamuddin centre. They occupy no formal office yet they attach themselves to certain leading elders and assist them in carrying out their functions. They are sort of religious ‘interns’. The author talked to some who had graduated from universities and now took time out from their civic life supporting themselves on contributions from family members or sharing meagre resources with other Tablighis to be able to devote their full time to the movement. The less sophisticated among them work as ushers there making sure every incoming or outgoing Tablighi or visitor finds his group or stays in touch with his programme. They also shield the centre’s core activities from stray visitors, particularly non-Tablighis and non-Muslims, foreigners, journalists.
Remarkable is the rather strict spatial separation between local/Indian or South Asian Tablighi and foreign Tablighis both at the centre and at the congregation. At the centre they are directed to different levels in the building, at the Bhopal congregation foreign Tablighis were interned in a separate tent camp on the mosque ground for ‘hygienic and security reasons’. For the foreign Tablighis there are always volunteers around who help with translations and organisation. Many foreign visitors who come on a preaching tour to South Asia not for the first time, have picked up Urdu which evolves as a global lingua franca of the Tablighi community.
The movement’s impact cannot be judged uniformly. While it apparently contributes to a strengthening of religious attitudes, and inculcates even bigotry in some followers, it links many aspiring lower middle class Muslims in South Asia with a moralistic version of modernity. In this it can contribute to the moral and cultural emancipation of selected Muslim strata both in a minority setting such as India or in a Muslim majority society such as Pakistan. It can also prepare the ground for groups professing Sunni radicalism or pursuing some form of militancy. Generally it promotes a quietist, value-laden outlook on life, which can be healing and invigorating for many but debilitating for some. Its most worrisome feature is perhaps its closed character, which can generate enormous pressure on participants, although in an open-society context such as India people find it still easy to withdraw from it if they want to. It is difficult to see that it can expand much further and may have reached its peak. Where it will go from here, whether moving into decline or towards a new quality, will be fascinating to watch for political analysts and religious studies experts alike.

Notes

[1] For the 2000 congregation, see Dawn, 5-7 November 2000; for Bangladesh, see AFP: ‘Muslims stream into Bangladesh for the 34th Biswa Ijtema’, dateline 29 January 2000.
[2] This refers to the Puritanism of the concept of islah, a movement for Quran-based reform of behaviour that emerged in Egypt at the end of the nineteenth century and spread to the whole Islamic world.
Quelle: Dieser Artikel von Dietrich Reetz erschien bereits in: Bredi, Daniela (Hg.) (2004): Islam in South Asia. Roma (= Oriente Moderno, 84:1), S. 295-305.
All teks from : http://www.suedasien.info/analysen/1464

Minggu, 06 Februari 2011

Bayan Masturot: Allah swt Turunkan Bencana Ketika Umat Tidak Buat Usaha Dakwah


Usaha dakwah seperti air hujan. Jika hujan di tempat yang kontang seperti padang pasir pun maka tempat itu akan subur menjadi wadi. Tetapi jika hujan tidak turun walaupun di tempat yang subur dan hijau, maka lambat laun tempat itu akan menjadi kontang dan mati.

Satu jemaah dari Pakistan telah dihantar ke Rusia dan telah bertemu dengan seorang ulama. Ulama itu menceritakan bahawa pada satu masa dulu semasa kominis, 60 ulama di tempatnya telah dibunuh dengan memasukkan mereka ke dalam mesin pemecah batu di lombong batu. Dia telah terselamat kerana sentiasa membawa botol arak sebagai helah. Selepas itu ulama tersebut telah menangis dan menangis dan berkata bahawa ulama2 tersebut telah dibunuh kerana tidak buat kerja seperti yang kamu buat sekarang.
Allah turunkan azab di tempat2 orang Islam untuk rotan umat ini kerana berlaku zalim. Zalim kerana tinggalkan perintah Allah yang utama untuk umat ini iaitu usaha dakwah. Kita kata Amerika & the gang zalim tetapi kitalah yang sebenarnya zalim.
Di akhirat nanti sebahagian dari umat ini akan dihalau sebanyak 3 kali dari telaga Kauthar oleh Nabi sendiri kerana ketika di dunia tidak pernah mengerutkan dahi apabila melihat kerosakan pada agama. Sekali halau mereka akan jauh dari Nabi sejauh mata memandang.
Allah telah beri diri dan harta kepada kita supaya dapat digunakan untuk membina dan memajukan agama. Tetapi bila diri dan harta disalah guna maka akan jadi penyakit dan masalah. Sama seperti penggunaan dadah pada asalnya adalah sebagai ubat tetapi bila disalah guna akan jadi sebab kerosakan. Bila umat ini guna diri dan harta untuk agama maka agama akan maju tetapi bila guna untuk dunia maka dunia akan maju.
Jemaah pertama yang dihantar ke Perancis adalah jemaah dari Bangladesh pada tahun 1983. Pada masa itu tiada satu masjid pun di sana walaupun ada 4 juta orang Arab. Jemaah telah menyewa sebuah bilik dan memulakan usaha di sana. Sekarang telah ada 2000 buah masjid. Markas di St Denim setinggi 3 tingkat akan penuh setiap kali azan dilaungkan.
Elders kata bila usaha Nabi dibuat maka kota London & Paris akan bertukar seperti kota Mekah & Madinah iaitu hidupnya amalan agama. Tetapi bila usaha tak dibuat maka kota Mekah & Madinah akan menjdi seperti kota London & Paris iaitu tempat bershopping.
Di markas London telah boleh azan menggunakan loudspeaker. Gereja2 banyak ditukar kepada masjid. Gereja dibeli dengan harga murah kerana tiada sambutan orang ramai walaupun loceng dibunyikan setiap hari. Bukan puluhan tapi ratusan gereja ditukar sehingga perlimen Britain mengharamkan penjualan gereja kepada mana2 badan. Kiblat gereja adalah ke masjidil Aqsa, jadi bila ditukar kepada masjid maka kedudukan kiblat diubah beberapa darjah sahaja ke kanan iaitu ke arah kaabah.
Sepanyol dulunya adalah negara Islam tetapi bila usaha Nabi ditinggalkan maka masjid2 telah menjadi muzium, gudang, kilang dan sebagainya. Berkat dari usaha jemaah2 yang bergerak maka sekarang masjid Cardoba di Sepanyol yang sekarang telah menjadi muzium dan bar telah dibuka sedikit ruang untuk kegunaan orang Islam menunaikan solat. Kalau dulu jemaah2 dihantar untuk desak kerajaan Sepanyol ubah masjid Cordoba dari muzium dan bar kepada masjid sebenar maka ini tak akan berjaya. Tetapi dengan usaha Nabi, sedikit demi sedikit Allah buat perubahan.
Ada tempat2 lain yang tiada masjid, bila jemaah dihantar ke sana maka orang Islam di sana mula bartaubat dan bersolat serta mengamalkan agama. Mereka bersolat di jalan2, di taman2 dan di mana sahaja sehingga kerajaan tempatan di situ terpaksa buat masjid untuk orang Islam beribadat. Kalau dulu jemaah2 dihantar untuk desak kerajaan tu buat masjid maka tak akan berjaya.
Bila kaum wanita ada fikir agama maka mereka akan didik anak2 cara hidup agama. Halakah ta’lim dan muzakarah sifat sahabat perlu dibuat di rumah setiap hari selama satu jam supaya dapat tanam jiwa agama kepada anak2. Jika tidak anak2 akan terpengaruh dengan kartun, robot, hantu dan lain-lain. Wanita juga akan jadi penggalak suami dan anak2 untuk beri pengorbanan untuk agama dan keluar di jalan Allah. Seperti isteri2 Nabi dan sahabat yang galakkan suami dan anak2 mereka.
Yakinlah bahawa setiap susah payah kita untuk agama akan pasti diganjari oleh Allah di akhirat dengan ganjaran yang besar. Setiap amal yang dibuat ketika keluar di jalan Allah akan digandakan sekurang2nya 700,000 kali ganda malah lebih lagi.
Untuk belajar usaha ini maka kita kita diminta keluar jemaah masturat 3 hari, 10 atau 15 hari dan 40 hari IPB.
Tashkil.
by : dalam dawah

Pentingnya (Fadhilah) Menikah


“Sesungguhnya, apabila seorang suami memandang isterinya (dengan kasih & sayang) dan isterinya juga memandang suaminya (dengan kasih & sayang), maka Allah akan memandang keduanya dengan pandangan kasih & sayang. Dan apabila seorang suami memegangi jemari isterinya (dengan kasih & sayang) maka berjatuhanlah dosa-dosa dari segala jemari keduanya” (HR. Abu Sa’id)
“Shalat 2 rakaat yang diamalkan orang yang sudah berkeluarga lebih baik, daripada 70 rakaat yang diamalkan oleh jejaka (atau perawan)” (HR. Ibnu Ady dalam kitab Al Kamil dari Abu Hurairah)
“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” (Ar-Ruum 21)
“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.” (An Nuur 32)
“Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah” (Adz Dzariyaat 49)
“Janganlah kalian mendekati zina, karena zina itu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk” (Al-Isra 32)
“Dialah yang menciptakan kalian dari satu orang, kemudian darinya Dia menciptakan istrinya, agar menjadi cocok dan tenteram kepadanya” (Al-A’raf 189)
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)” (An-Nur 26)
“Berikanlah mahar (mas kawin) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan” ( An Nisaa : 4)
“Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku” (HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.)
“Empat macam diantara sunnah-sunnah para Rasul yaitu : berkasih sayang, memakai wewangian, bersiwak dan menikah” (HR. Tirmidzi)
“Janganlah seorang laki-laki berdua-duan (khalwat) dengan seorang perempuan, karena pihak ketiga adalah syaithan” (Al Hadits)
“Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah mampu untuk kawin, maka hendaklah dia menikah. Karena dengan menikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu bisa menjadi perisai baginya” (HR. Bukhori-Muslim)
“Janganlah seorang laki-laki dan wanita berkhalwat, sebab syaithan menemaninya. Janganlah salah seorang di antara kita berkhalwat, kecuali wanita itu disertai mahramnya” (HR. Imam Bukhari dan Iman Muslim dari Abdullah Ibnu Abbas ra).
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah tidak melakukan khalwat dengan seorang wanita yang tidak disertai mahramnya, karena sesungguhnya yang ketiga adalah syetan” (Al Hadits)
“Dunia ini dijadikan Allah penuh perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan hidup adalah istri yang sholihah” (HR. Muslim)
“Jika datang (melamar) kepadamu orang yang engkau senangi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia (dengan putrimu). Jika kamu tidak menerima (lamaran)-nya niscaya terjadi malapetaka di bumi dan kerusakan yang luas” (H.R. At-Turmidzi)
“Barang siapa yang diberi istri yang sholihah oleh Allah, berarti telah ditolong oleh-Nya pada separuh agamanya. Oleh karena itu, hendaknya ia bertaqwa pada separuh yang lain” (Al Hadits)
“Jadilah istri yang terbaik. Sebaik-baiknya istri, apabila dipandang suaminya menyenangkan, bila diperintah ia taat, bila suami tidak ada, ia jaga harta suaminya dan ia jaga kehormatan dirinya” (Al Hadits)
“Tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah : a. Orang yang berjihad / berperang di jalan Allah. b. Budak yang menebus dirinya dari tuannya. c. Pemuda / i yang menikah karena mau menjauhkan dirinya dari yang haram” (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim)
“Wahai generasi muda ! Bila diantaramu sudah mampu menikah hendaklah ia nikah, karena mata akan lebih terjaga, kemaluan akan lebih terpelihara” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud)
“Kawinlah dengan wanita yang mencintaimu dan yang mampu beranak. Sesungguhnya aku akan membanggakan kamu sebagai umat yang terbanyak” (HR. Abu Dawud)
“Saling menikahlah kamu, saling membuat keturunanlah kamu, dan perbanyaklah (keturunan). Sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya jumlahmu di tengah umat yang lain” (HR. Abdurrazak dan Baihaqi)
“Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah” (HR. Bukhari)
“Diantara kamu semua yang paling buruk adalah yang hidup membujang, dan kematian kamu semua yang paling hina adalah kematian orang yang memilih hidup membujang” (HR. Abu Ya¡¦la dan Thabrani)
“Dari Anas, Rasulullah SAW. pernah bersabda : Barang siapa mau bertemu dengan Allah dalam keadaan bersih lagi suci, maka kawinkanlah dengan perempuan terhormat” (HR. Ibnu Majah,dhaif)
“Rasulullah SAW bersabda : Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian diantaramu. Sesungguhnya, Allah akan memperbaiki akhlak, meluaskan rezeki, dan menambah keluhuran mereka” (Al Hadits)
“Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu dibarakahi-Nya, Siapa yang menikahi seorang wanita karena kedudukannya, Allah akan menambahkan kehinaan kepadanya, Siapa yang menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan memberinya kemiskinan, Siapa yang menikahi wanita karena bagus nasabnya, Allah akan menambahkan kerendahan padanya, Namun siapa yang menikah hanya karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah senantiasa memberi barakah dan menambah kebarakahan itu padanya” (HR. Thabrani)
“Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya, mungkin saja kecantikan itu membuatmu hina. Jangan kamu menikahi wanita karena harta / tahtanya mungkin saja harta / tahtanya membuatmu melampaui batas. Akan tetapi nikahilah wanita karena agamanya. Sebab, seorang budak wanita yang shaleh, meskipun buruk wajahnya adalah lebih utama” (HR. Ibnu Majah)
“Dari Jabir r.a., Sesungguhnya Nabi SAW. telah bersabda : Sesungguhnya perempuan itu dinikahi orang karena agamanya, kedudukan, hartanya, dan kecantikannya ; maka pilihlah yang beragama” (HR. Muslim dan Tirmidzi)
“Wanita yang paling agung barakahnya, adalah yang paling ringan maharnya” (HR. Ahmad, Al Hakim, Al Baihaqi dengan sanad yang shahih)
“Jangan mempermahal nilai mahar. Sesungguhnya kalau lelaki itu mulia di dunia dan takwa di sisi Allah, maka Rasulullah sendiri yang akan menjadi wali pernikahannya.” (HR. Ashhabus Sunan)
“Sesungguhnya berkah nikah yang besar ialah yang sederhana belanjanya (maharnya)” (HR. Ahmad)
“Dari Anas, dia berkata : ” Abu Thalhah menikahi Ummu Sulaim dengan mahar berupa keIslamannya” (Ditakhrij dari An Nasa’i)
“Adakanlah perayaan sekalipun hanya memotong seekor kambing.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dikutip dari :  dalamdakwah

Adab Tidur


1.    Berwudhu sebelum tidur
2.    Periksa pintu, jendela, makanan, minuman atau tempat air ditutup dengan membaca Basmalah.
3.    Shalat sunat 2 rakaat
4.    Menghisab diri :
  • Apakah ada amalan yang belum dikerjakan, maka segera kerjakan.
  • Apakah amal kita lebih baik dari kemaren atau tidak 
  • Jangan membawa dendam dan jika ada saudara yang punya kesalahan kita maafkan, jika saudara kita punya hutang kita bebaskan untuk malam itu dan besok ditagih lagi kalau memang belum sanggup membebaskan hutangnya sepenuhnya, jika kita punya hutang maka hendaklah ditulis dikertas dan simpan di bawah bantal untuk memberitahu ahli waris jika kita meninggal, sehingga akan dilunasi.
5.    Menyelesaikan dzikir pagi dan petang dan membaca al-Qur an surat al-Mulk, As-sajadah,al-Waqi`ah (agar terhindar dari azab kubur dan dari kemiskinan terutama miskin iman ), membaca tasbih Fathimah : Subhanallah 33 X, Alhamdulillah 33 X dan Allahuakbar 34 X. Fadhilahnya untuk menghilangkan rasa letih dan akan bangun dalam keadaan segar kembali.

6.    Disunnahkan bercelak 3x dimata kanan dan 2 x di mata kiri sambil membaca ( At-Tahrim : 8 ) :
اَللَّهُمَّ اَتْمِمْ لَنـَا نُوْرَنـَا وَاغْفِرْلَنـَا اِنَّـكَ عَلَى كُلِّى شَيءٍ قَدِيْـرٌ

7.    Siapkan alas tidur dengan mengibaskan / menyapukan 3x sambil membaca shalawat 3x, fadhilah untuk menghindarkan kedengkian orang dan gangguan-gangguan jin jahat.
8.    Naik dengan kaki kanan sambil membaca Takbir.
9.    Niat bangun malam untuk shalat tahajud
  • Tidak diperbolehkan tidur hanya memakai selimut tanpa busana.
  • Membaca istighfar minimal 3x.
10.    Duduk berselonjor, menghadap kiblat dan membaca :
  • Ayat kursi 1 atau 3x untuk menghindarkan gangguan syetan dan untuk menjaga keluarga, rumah dan tetangga dari gangguan
  • Al-Fatihah dan 4 Qul, untuk menghindarkan diri dari bahaya, kecuali maut. Lalu ditiupkan 3x ke telapak tangan, diusapkan ke badan kecuali kemaluan dan telapak kaki dengan cara mengusap wajah dan seluruh badan bagian atas yang terjangkau.
  • Baca 4 Qul lalu tiupkan 3x, usapkan wajah sampai kaki bagian samping
  • Baca 4 Qul lalu tiupkan 3x, usapkan wajah sampai kaki bagian bawah.
  • Do`a untuk menangkal sihir (Q.S. Yunus : 81 )
قَـالَ مُوْسَى مَـاجِءْ تُمْ بِـهِ السِّحْرُ اِنَّ الله َ سَيُبْطِـلُـهُ اِنَّ الله َ لاَ يُصْلِحُ عَمَلَ الْمُفْسِـدِيْـنَ
11.    Cara tidur ada 2 macam :
  • Badan miring ke kanan menghadap kiblat , tangan kanan di bawah pipi kanan, tangan kiri di atas pinggul dan kaki kanan ujungnya di atas kaki kiri.
  • Cara sahabat : Terlentang dengan kepala ke kanan, kedua tangan di atas perut, kaki kanan di atas kaki kiri.
12.    Baca do`a akan tidur : بِسْمِـكَ اَللَّـهُمَّ اَحْيـَا وَاَمُوْت
13.    Apabila mimpi baik baca Alhamdulillah dan berdo`a agar jadi kenyataan dan boleh diceritakan pada orang lain, bila mimpi buruk baca A`udzubillahiminasysyaithanirrajiim dan sambil isyarat meludah ke kiri dan jangan diceritakan pada orang lain.

14.    Bangun tidur baca Alhamdulillah 3x dan baca do`a :
اَلْحَمْـدُ ْاللهِ الَّذِى اَحْيـَانـَا بَعْدَمَـا اَمـَاتَنـَا وَاِلَيْهِ النُّشُـوْرُ
Dan sambil menggosok punggung tangan ke mata agar rasa kantuk hilang.

Di kutip dari :  Ahliah Da'wah 
Widget Ini